Sejarah Pulau Untung Jawa yang Jarang Diketahui dan MenarikTidung Lagoon

Sejarah Pulau Untung Jawa yang Jarang Diketahui dan Menarik

Pulau Untung Jawa adalah salah satu gugusan Kepulauan Seribu yang menyimpan sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda hingga Jepang. Pulau ini diperkirakan telah dihuni selama enam generasi, dengan berbagai peristiwa penting yang membentuk identitasnya. Pada awal abad ke-20, penduduk asli berasal dari daratan Pulau Jawa dan mendiami pulau-pulau di sekitar Kelurahan Pulau Untung Jawa.

Asal Usul Nama Pulau Untung Jawa

Pada tahun 1920-an, wilayah ini dipimpin oleh tokoh dengan gelar Bek, sebutan untuk lurah pada masa itu. Dua pemimpin awal yang dikenal adalah Bek Fi’i dan Bek Kasim, yang menetap di Pulau Kherkof, kini dikenal sebagai Pulau Kelor. Mereka memimpin beberapa pulau, termasuk Pulau Amiterdam yang kelak berubah nama menjadi Pulau Untung Jawa.

Sekitar tahun 1930-an, Bek Marah menggantikan kepemimpinan sebelumnya dan menganjurkan penduduk Pulau Kherkof pindah ke Pulau Amiterdam. Perpindahan ini dilakukan karena abrasi parah di Pulau Kherkof.

Perjalanan memakan waktu delapan jam menggunakan perahu layar. Setibanya di Pulau Amiterdam, pendatang dari Pulau Kherkof diterima hangat oleh penduduk asli, seperti Cule, Kemple, Derahman, Derahim, Selihun, Sa’adi, dan Saemin. Sambutan ini membuat pulau tersebut dinamakan Pulau Untung Jawa, yang berarti keberuntungan bagi orang Jawa.

Tantangan Hidup dan Perpindahan Kedua

Setelah masa Bek Marah, kepemimpinan berlanjut ke Bek Midih, Bek Markasan, dan Bek Saenan. Pada tahun 1940-an, Pulau Untung Jawa dilanda serangan nyamuk yang memaksa penduduk pindah ke Pulau Ubi Besar atau Pulau Rotterdam. Namun, masa penjajahan Jepang membuat kebutuhan pokok dari Pasar Ikan Sunda Kelapa sulit diperoleh karena blokade perang.

Tantangan lain muncul ketika Pulau Ubi Besar juga terkena abrasi. Lurah Maesan, yang menggantikan Bek Saenan pasca kemerdekaan, memutuskan untuk kembali ke Pulau Untung Jawa. Pemerintah Indonesia yang baru merdeka mendukung kepindahan ini. Pada 13 Februari 1954, warga membangun tugu peringatan di tengah pulau sebagai simbol awal baru.

Perkembangan Pemerintahan dan Status Desa Wisata

Sejak era Lurah Maesan, Pulau Untung Jawa dipimpin oleh beberapa lurah, antara lain Muran, Asmawi, Marzuki, Safi’i, Abdul Manaf, Machbub Sanadi, Haman Sudjana, Ambas, Slamet Riyadi S.sos, Agus Irwanto, dan Eko Suroyo S.Sos., M.Si. Kepemimpinan mereka membawa kemajuan bagi pulau ini.

Pada tahun 2002, Pulau Untung Jawa resmi dicanangkan sebagai Desa Wisata Nelayan. Status ini semakin memperkuat potensi wisata sekaligus mempertahankan sejarah panjang pulau. Hingga kini, Pulau Untung Jawa tetap menjadi tujuan populer di Kepulauan Seribu dengan warisan budaya dan kisah migrasi yang unik.

penulis penulis August 11, 2025 Pulau Seribu
Change the Language »